putri
sekarang aku tau kenapa putri bisa punya wajah seketus itu. ternyata dia belajar dari neneknya.
beberapa bulan lalu aku pernah ketemu seorang nenek di deket TPA di depan mesjid at taqwa. nenek itu membawa sebilah ranting sambil berteriak teriak memaki cucu2nya yg berlarian gemetar masuk rumah.
waktu aku dan tika menyapanya, nenek itu sempat curcol tentang betapa lelahnya dia mengurusi cucu2nya yg sulit diatur.
dan beberapa bulan setelah kejadian itu, tepatnya hari sabtu kemarin, terb0ngkarlah fakta bahwa ternyata nenek itu neneknya putri. salah 1 muridku di kelas fathimah.
putri memang agak lain dari anak2 lain. dia gak pecicilan, malah cenderung tenang. ga banyak om0ng. ga berisik. jarang membantah, rajin dan bisa dibilang lebih pintar dibanding teman2 sebayanya dikel0mpok fathìmah.
tapi dia satu2nya anak yg mengernyitkan dahi waktu aku pertama kali mengajar. menatapku penuh keremehan.
dia satu2 nya anak yg mengatakan 'huuu..' tiap kali aku kedapatn melakukan 1saja kesalahan.
dia satu2nya anak yg tertawa lebih sedikit diantara teman2nya tetapi mengumpat lebih banyak dibanding yg lainnya.
sejak awal aku tau dia berbeda.
dan hari sabtu kemarin, ketika cuma dia satu2nya murid yg tertinggal karena kekukukuhanny menyelesaikan tugas yg kuberikan sampai 1halaman (sementara anak2 lain cuma mau mengerjakan beberapa baris). disitu aku tau, dia anak yg perfeksionis. kemudian aku mendekatinya dan kami sedikit bertukar cerita. dia mengutuk kerudungnya yg berantakan dan bilang ingin memakai kerudung seperti aku memakai. kemudian aku merapikan kerudungnya, menyematkan bros di bahunya, memujinya, dan kami tertawa bersama2. benar2 kesempatan langka. disitulah aku tau tentang neneknya. dia sempat mengutuk neneknya dengan menyebutnya 'dasar nenek sial' lengkap dengan muka juteknya yg khas.
disitu aku kaget. aku tau, kata2 itu bisa jadi dipelajarinya dari neneknya sendiri. terpikir berapa kali neneknya pernah menyebutnya 'cucu sial' atau 'anak kurang ajar' atau 'bocah gak tau diuntung' atau kutukan2 lain semacam itu.
mungkin ini sebabnya kenapa dia kelihatan beda. kenapa dia lebih sering merengut daripada tersenyum.
mungkin ini, kenapa aku gak pernah menemukannya tertawa selepas anak2 lainnya.
dan bukankah anak2 itu, memang peniru yg paling hebat?
beberapa bulan lalu aku pernah ketemu seorang nenek di deket TPA di depan mesjid at taqwa. nenek itu membawa sebilah ranting sambil berteriak teriak memaki cucu2nya yg berlarian gemetar masuk rumah.
waktu aku dan tika menyapanya, nenek itu sempat curcol tentang betapa lelahnya dia mengurusi cucu2nya yg sulit diatur.
dan beberapa bulan setelah kejadian itu, tepatnya hari sabtu kemarin, terb0ngkarlah fakta bahwa ternyata nenek itu neneknya putri. salah 1 muridku di kelas fathimah.
putri memang agak lain dari anak2 lain. dia gak pecicilan, malah cenderung tenang. ga banyak om0ng. ga berisik. jarang membantah, rajin dan bisa dibilang lebih pintar dibanding teman2 sebayanya dikel0mpok fathìmah.
tapi dia satu2nya anak yg mengernyitkan dahi waktu aku pertama kali mengajar. menatapku penuh keremehan.
dia satu2 nya anak yg mengatakan 'huuu..' tiap kali aku kedapatn melakukan 1saja kesalahan.
dia satu2nya anak yg tertawa lebih sedikit diantara teman2nya tetapi mengumpat lebih banyak dibanding yg lainnya.
sejak awal aku tau dia berbeda.
dan hari sabtu kemarin, ketika cuma dia satu2nya murid yg tertinggal karena kekukukuhanny menyelesaikan tugas yg kuberikan sampai 1halaman (sementara anak2 lain cuma mau mengerjakan beberapa baris). disitu aku tau, dia anak yg perfeksionis. kemudian aku mendekatinya dan kami sedikit bertukar cerita. dia mengutuk kerudungnya yg berantakan dan bilang ingin memakai kerudung seperti aku memakai. kemudian aku merapikan kerudungnya, menyematkan bros di bahunya, memujinya, dan kami tertawa bersama2. benar2 kesempatan langka. disitulah aku tau tentang neneknya. dia sempat mengutuk neneknya dengan menyebutnya 'dasar nenek sial' lengkap dengan muka juteknya yg khas.
disitu aku kaget. aku tau, kata2 itu bisa jadi dipelajarinya dari neneknya sendiri. terpikir berapa kali neneknya pernah menyebutnya 'cucu sial' atau 'anak kurang ajar' atau 'bocah gak tau diuntung' atau kutukan2 lain semacam itu.
mungkin ini sebabnya kenapa dia kelihatan beda. kenapa dia lebih sering merengut daripada tersenyum.
mungkin ini, kenapa aku gak pernah menemukannya tertawa selepas anak2 lainnya.
dan bukankah anak2 itu, memang peniru yg paling hebat?











